FILSAFAT
KLASIK
A.Pengertian
Filsafat
Filsafat
berasal dari bahasa Yunani “philein”
yang berarti cinta dan “shopia” yang
berarti kebijaksanaan. Jadi, Filsafat menurut asal katanya berarti cinta akan
kebijaksanaan, atau mencintai kebenaran/pengetahuan. Filoshop-filosop yang
muncul pada zaman dahulu yang akan saya paparkan pada makalah ini yaitu :
1.PRE-SOKRATES --- SOKRATES
Pada permulaan perkembangan
pemikiran filsafat Yunani, tampaknya semata-mata berurusan dengan dunia fisik
saja. Kosmologi jelas amat mengungguli penyelidikan-penyelidikan dalam
cabang-cabang filsafat lainnya.
· Mazhab Milesian mengembangkan filsafat jasmaniah.
· Mazhab Pythagorean mengembangkan filsafat matematis. Aliran ini berpendapat bahwa unsur-unsur kualitatif kosmos berasal dari unsur-unsur kuantitatif, yaitu bilangan-bilangan. Mazhab ini juga menaruh perhatian yang dalam pada masalah manusia, tetapi terutama dari sudut keagamaan di dalam kelompok tertutup tempat mereka hidup.
· Para pemikir Eleatik menjadi orang-orang pertama yang menggariskan cita-cita logika. Mereka menegaskan bahwa hanya rasio yang dapat membuka jalan ke arah Ada yang benar dan nyata.
· Heraklitos berdiri pada garis perbatasan antara pemikiran kosmologis dan pemikiran antropologis. Dia menolak konsep tentang Ada yang dikemukakan Mazhab Eleatik. Bagi dia, pengenalan indrawi menjadi titik tolak yang terpecaya meskipun ia sangat menjunjung tinggi rasio (logos) sebagai kemampuan untuk mengenal, namun rasio itu sama bergerak dan terlibat dalam proses menjadi seperti segala sesuatu yang ada.
· Protagoras, seorang sofis, mengatakan bahwa bukanlah Ada yang menentukan pengenalan kita, melainkan pengenalan kita yang menentukan Ada. Jadi bukan obyektivisme, melainkan subyektivisme. Oleh sebab itu dia berpendapat bahwa "manusia adalah tolok ukur untuk segala-galanya".
· Mazhab Milesian mengembangkan filsafat jasmaniah.
· Mazhab Pythagorean mengembangkan filsafat matematis. Aliran ini berpendapat bahwa unsur-unsur kualitatif kosmos berasal dari unsur-unsur kuantitatif, yaitu bilangan-bilangan. Mazhab ini juga menaruh perhatian yang dalam pada masalah manusia, tetapi terutama dari sudut keagamaan di dalam kelompok tertutup tempat mereka hidup.
· Para pemikir Eleatik menjadi orang-orang pertama yang menggariskan cita-cita logika. Mereka menegaskan bahwa hanya rasio yang dapat membuka jalan ke arah Ada yang benar dan nyata.
· Heraklitos berdiri pada garis perbatasan antara pemikiran kosmologis dan pemikiran antropologis. Dia menolak konsep tentang Ada yang dikemukakan Mazhab Eleatik. Bagi dia, pengenalan indrawi menjadi titik tolak yang terpecaya meskipun ia sangat menjunjung tinggi rasio (logos) sebagai kemampuan untuk mengenal, namun rasio itu sama bergerak dan terlibat dalam proses menjadi seperti segala sesuatu yang ada.
· Protagoras, seorang sofis, mengatakan bahwa bukanlah Ada yang menentukan pengenalan kita, melainkan pengenalan kita yang menentukan Ada. Jadi bukan obyektivisme, melainkan subyektivisme. Oleh sebab itu dia berpendapat bahwa "manusia adalah tolok ukur untuk segala-galanya".
Meskipun mereka tergolong
filsuf alam, namun Heraklitos sudah yakin bahwa mustahil menyelami rahasia alam
tanpa mempelajari rahasia manusia. Kita harus memenuhi tuntutan akan pengenalan
diri bila kita hendak tetap menguasai realitas dan memahami maknanya. Oleh
sebab itu Heraklitos menyebut seluruh filsafatnya dengan dua kata edizesamen
emeoton ("Aku mencari diriku sendiri").
Namun kecendrungan berpikir yang baru ini,
baru matang pada masa Sokrates, sehingga persoalan tentang manusia merupakan
patokan yang membedakan pemikiran Sokrates dengan pemikiran pre-Sokrates.
Ungkapan Sokrates yang sangat terkenal adalah "kenalilah dirimu
sendiri". Manusia adalah makhluk yang terus-menerus mencari dirinya
sendiri dan yang setiap saat harus menguji dan mengkaji secara cermat
kondisi-kondisi eksistensinya. Sokrates berkata dalam Apologia, "Hidup
yang tidak dikaji" adalah hidup yang tidak layak untuk dihidupi. Bagi
Sokrates, manusia adalah makhluk yang bila disoroti pertanyaan yang rasional
dapat menjawab secara rasional pula.
Menurut Sokrates, hakekat
manusia tidak ditentukan oleh tambahan-tambahan dari luar, ia semata-mata
tergantung pada penilaian diri atau pada nilai yang diberikannya kepada dirinya
sendiri. Semua hal yang 'ditambahkan dari luar' kepada manusia adalah kosong
dan hampa. Kekayaan, pangkat, kemasyhuran dan bahkan kesehatan atau kepandaian
semuanya tidak pokok (adiaphoron). Satu-satunya persoalan adalah kecendrungan
sikap terdalam pada hati manusia. Hati nurani merupakan "hal yang tidak
dapat memperburuk diri manusia, tidak dapat juga melukainya baik dari luar
maupun dari dalam".
2.PLATO (427 - 347 SM)
Terjadi titik balik dalam
kebudayaan dan pemikiran Yunani ketika Plato menafsirkan semboyan
"kenalilah dirimu sendiri" (gnothi seauton) dengan cara yang sama
sekali baru. Penafsiran ini memunculkan persoalan yang tidak hanya tidak
terdapat pada pemikiran pre-Sokrates, tetapi juga di luar jangkauan metode
Sokrates sendiri. Untuk memenuhi permintaan orakel Delphi, untuk memenuhi
kewajiban religius berupa pengkajian diri serta pengenalan diri, Sokrates
mendekati manusia sebagai individu. Pendekatan Sokrates ini oleh Plato dianggap
punya keterbatasan-keterbatasan.
Bagi Plato, untuk
memecahkan persoalan tersebut kita harus membuat rancangan yang lebih luas.
Dalam pengalaman individual, kita menghadapi gejala-gejala yang demikian
beraneka, rumit dan saling bertentangan, sehingga kita sulit melihatnya secara
jelas. Manusia seharusnya dipelajari dari sudut kehidupan sosial dan politis.
Menurut Plato, manusia adalah ibarat teks yang sulit, maknanya harus diuraikan
oleh filsafat. Tapi dalam pengalaman kita sebagai pribadi, teks itu ditulis
dengan huruf-huruf yang terlampau kecil sehingga tidak terbaca. Maka sebagai
tugas pertama, filsafat harus 'memperbesar' tulisan-tulisan tersebut. Filsafat
hanya dapat mengajukan teori yang memadai tentang manusia apabila sampai pada
teori tentang negara.
Dalam teori tentang negara,
sifat-sifat manusia ditulis dengan huruf-huruf besar. Dalam teori tentang
negara, arti 'teks' yang semula tersembunyi seketika muncul, dan apa yang
semula kabur dan ruwet menjadi jelas dan dapat dibaca. Namun negara bukanlah
segala-galanya, serta negara tidak mencerminkan dan tidak menyerap seluruh
aktivitas manusia, meskipun kegiatan manusia dalam perkembangan sejarahnya
berhubungan erat dengan bertumbuhnya negara.
Plato bertitik tolak dari
manusia yang harmonis serta adil dan dalam hal itu ia menggunakan pembagian
jiwa atas 3 fungsi, yaitu:
· Epithymia (suatu bagian keinginan dalam jiwa).
· Thymos, (suatu bagian energik dalam jiwa).
· Logos, (suatu bagian rasional dalam jiwa dan sebagai puncak dan pelingkup).
· Epithymia (suatu bagian keinginan dalam jiwa).
· Thymos, (suatu bagian energik dalam jiwa).
· Logos, (suatu bagian rasional dalam jiwa dan sebagai puncak dan pelingkup).
Menurut Plato, negara
diibaratkan sebagai Manusia Besar, sebagai organisme yang terdiri atas 3 bagian
atau golongan yang masing-masing sepadan dengan suatu bagian jiwa, yaitu:
· Epithymia, golongan produktif yang terdiri dari buruh, petani, dan pedagang.
· Thymos, golongan penjaga yang terdiri dari prajurit-prajurit.
· Logos, golongan pejabat yang memegang pucuk pimpinan dan kekuasaan.
· Epithymia, golongan produktif yang terdiri dari buruh, petani, dan pedagang.
· Thymos, golongan penjaga yang terdiri dari prajurit-prajurit.
· Logos, golongan pejabat yang memegang pucuk pimpinan dan kekuasaan.
Plato juga mengajarkan
teori tentang pra-eksistensi jiwa. Dia mengatakan sebelum kita dilahirkan, atau
sebelum kita memperoleh suatu status badani, kita sudah berada sebagai
jiwa-jiwa murni dan hidup di kawasan lebih tinggi di mana kita memandang suatu
dunia rohani. Sejak kita dilahirkan, kita berada di bumi dan jiwa kita
meringkuk dalam penjara tubuh, terbuang dari daerah tinggi itu. Karena
penjelmaan dalam tubuh itu, jiwa kita tidak lagi menyadarkan diri dan dengan
mendadak tidak lagi menyadari pengetahuan tentang idea-idea dalam dunia
kayangan dulu. Dari sini Plato kemudian mengembangkan teori tentang manusia.
Manusia pada mulanya adalah roh murni yang
hidup dari kontemplasi akan yang ideal dan yang ilahi. Jadi, kemungkinan dan
makna ultimate keberadaan manusia mula-mula terletak dalam kehidupan yang
berkaitan erat dengan yang baik, yang benar, dan yang indah. Tetapi kita gagal
mencapai kehidupan yang sebagaimana mestinya karena kita menyimpang dari kiblat
idea-idea tersebut, sehingga kita langsung terhukum dengan dipenjarakannya jiwa
ke dalam tubuh.
Kita harus berusaha naik ke atas dan
memperoleh perhatian dan cinta besar untuk dunia ideal dan ilahi itu. Akan
tetapi kemungkinan untuk mewujudkan makna ini sangat dibatasi karena kita
terbelenggu dalam materi. Bagi kita, dunia jasmani dan tubuh menjadi
kemungkinan-kemungkinan buruk untuk tersesat lebih jauh lagi dan tenggelam
dalam rawa-rawa materi dan sensual.
Kemungkinan yang paling jahat ialah
menyerahkan diri sepenuhnya kepada dirinya sendiri (egoisme radikal) dan kepada
benda-benda jasmani (materialisme dan sensualisme). Jadi, bagi manusia, dunia
dan tubuh itu bersifat ambivalen, artinya dunia serta tubuh dapat merayu dia ke
arah kemungkinan-kemungkinan yang jahat, tetapi dapat juga mendorong dia kepada
kemungkinan-kemungkinan yang baik.
Manusia memiliki suatu daya yang kuat dan
gemilang yang dapat mendorong dia ke atas, yaitu cinta (eros). Eros adalah daya
kreatif dalam diri manusia, pencetus kehidupan, inspirator para penemu, seniman
dan genius. Eros memenuhi kita dengan semangat kebersamaan, membebaskan kita
dari kesendirian kita, dan mengajak kita ke pesta, musik, tarian, dan permaian.
Plato menyebutnya sebagai "bapak segala kehalusan, segala kepuasan dan
kelimpahan, segala daya tarik, keinginan dan asmara". Eros mendorong kita
semakin tinggi, sehingga kita dapat beralih dari cinta yang kelihatan kepada
cinta yang tidak kelihatan, ideal, ilahi. Menurut Plato, kematian hanyalah
permulaan suatu reinkarnasi baru yang lebih rendah atau lebih tinggi daripada
keberadaannya sebelumnya. Dalam karyanya: Phaidros, Plato berkata bahwa setelah
10.000 tahun, jiwa akan kembali ke asal usulnya. Jadi menurut pandangan Plato,
manusia mempunyai banyak jiwa dan banyak manusia individu.
3.RENE DESCARTES (1596-1650)
Filsafat Rasionalismenya
membawa dampak terhadap pandangan tentang manusia. Pemikiran-pemikiran penting
dalam filsafatnya:
· Ada dua bentuk realitas yang berbeda, dua "substansi". Yang pertama adalah gagasan (res cogitan), atau "pikiran", dan yang kedua adalah perluasan (res extensa). Pikiran itu adalah kesadaran, tidak mengambil tempat dalam ruang. Materi adalah perluasan, mengambil tempat dalam ruang dan tidak mempunyai kesadaran.
· Kedua substansi tersebut tidak mempunyai hubungan satu sama lain. Pikiran sama sekali tidak tergantung pada materi, sebaliknya proses materi juga tidak tergantung pada pikiran à dualisme.
· Manusia adalah makhluk ganda yang mempunyai pikiran dan badan perluasan. Apa yang kita pikirkan dengan akal kita tidak terjadi di dalam badan - itu terjadi di dalam pikiran, yang sama sekali tidak tergantung pada realitas perluasan. Namun Descartes tidak dapat menyangkal bahwa ada interaksi konstan antara pikiran dan badan. Interaksi konstan berlangsung antara "roh" dan "materi".
· Ada dua bentuk realitas yang berbeda, dua "substansi". Yang pertama adalah gagasan (res cogitan), atau "pikiran", dan yang kedua adalah perluasan (res extensa). Pikiran itu adalah kesadaran, tidak mengambil tempat dalam ruang. Materi adalah perluasan, mengambil tempat dalam ruang dan tidak mempunyai kesadaran.
· Kedua substansi tersebut tidak mempunyai hubungan satu sama lain. Pikiran sama sekali tidak tergantung pada materi, sebaliknya proses materi juga tidak tergantung pada pikiran à dualisme.
· Manusia adalah makhluk ganda yang mempunyai pikiran dan badan perluasan. Apa yang kita pikirkan dengan akal kita tidak terjadi di dalam badan - itu terjadi di dalam pikiran, yang sama sekali tidak tergantung pada realitas perluasan. Namun Descartes tidak dapat menyangkal bahwa ada interaksi konstan antara pikiran dan badan. Interaksi konstan berlangsung antara "roh" dan "materi".
Pikiran dapat selalu
dipengaruhi oleh perasaan dan nafsu yang berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan
badaniah. Namun pikiran dapat menjauhkan diri dari impuls-impuls 'tercela'
semacam itu dan bekerja tanpa tergantung pada badan (jika aku merasakan sakit
yang amat-sangat pada perutku, jumlah sudut dalam sebuah segitiga tetap 180
derajat. Maka manusia mempunyai kemampuan untuk bangkit mengatasi
kebutuhan-kebutuhan badaniah dan bertindak secara rasional. Dalam hal ini
pikiran lebih unggul daripada badan.
4.SÖREN KIERKEGAARD (1813-1855)
Sebagai Bapak Eksistensialisme,
pandangan filosofis Kierkegaard tentunya banyak membahas tentang manusia,
khususnya eksistensinya. Beberapa point yang penting dalam filsafatnya:
· Individu tidak ditempatkan di hadapan Ketiadaan, melainkan di hadapan Tuhan.
· Dia menganggap Hegelianisme sebagai ancaman besar untuk individu, untuk manusia selaku persona.
· Yang harus dipersoalkan terutama subyektivitas dari kebenaran, yaitu bagaimana kebenaran dapat menjelma dalam kehidupan individu. Kebenaran obyektif - termasuk agama - harus mendarah daging dalam si individu.
· Yang penting ialah bahwa aku memahami diriku sendiri, bahwa kulihat dengan jelas apa yang Tuhan kehendaki sungguh-sungguh agar aku perbuat. Yang terutama kubutuhkan ialah mendapatkan suatu kebenaran yang adalah benar untuk aku, suatu ide yang bisa mengilhami kehidupan dan kematianku.
· Individu tidak ditempatkan di hadapan Ketiadaan, melainkan di hadapan Tuhan.
· Dia menganggap Hegelianisme sebagai ancaman besar untuk individu, untuk manusia selaku persona.
· Yang harus dipersoalkan terutama subyektivitas dari kebenaran, yaitu bagaimana kebenaran dapat menjelma dalam kehidupan individu. Kebenaran obyektif - termasuk agama - harus mendarah daging dalam si individu.
· Yang penting ialah bahwa aku memahami diriku sendiri, bahwa kulihat dengan jelas apa yang Tuhan kehendaki sungguh-sungguh agar aku perbuat. Yang terutama kubutuhkan ialah mendapatkan suatu kebenaran yang adalah benar untuk aku, suatu ide yang bisa mengilhami kehidupan dan kematianku.
Apakah gunanya menemukan
suatu kebenaran yang disebut obyektif dan mempelajari semua sistem filosofis .
Sejauh mana ada baiknya bagiku dapat menjelaskan arti agama Kristen bila agama
itu tidak mempunyai arti mendalam untuk aku sendiri dan kehidupanku ."
Kierkegaard mencari
kebenaran yang konkret serta eksistensial, suatu pengetahuan yang dihayati (connaissance vécue), a real knowledge.
kebenaran yang konkret serta eksistensial, suatu pengetahuan yang dihayati (connaissance vécue), a real knowledge.
· Dia membedakan manusia dalam stadium estetis, etis dan religius.
· Pada stadium estetis manusia membiarkan diri dipimpin oleh sejumlah besar kesan-kesan indrawi, mengikuti prinsip kesenangannya, lebih dijadikan hidup daripada ia hidup sendiri. Manusia menyibukkan diri dengan rupa-rupa hal, tetapi ia tidak melibatkan diri; ia hanya tinggal seorang penonton yang berminat. Ia bisa menjadi seorang hedonis yang sempurna, seorang "perayu" seperti Don Juan, atau seorang yang "sok tahu" dan seorang Sofis (mis. Mendalami filsafat dan teologi).
· Kebosanan, kekurangsenangan dan kecemasan memimpin seseorang ke arah stadium etis. Mulai mekar keinsafan akan kemungkinan-kemungkinan kita, akan kebebasan, tanggung jawab dan kewajiban kita. Kita sampai pada diri kita sendiri, menggantungkan kehidupan kita pada norma, bertumbuh menjadi persona.
Kita semakin mengikat diri,
dari penonton menjadi pelaku, kita melibatkan diri. Dalam stadium ini juga,
manusia menyadari keadaannya yang tragis dan bercacat; ia menginsafi bahwa ia
penuh kekurangan. Ia akan merasa jengkel karena ketidaksempurnaannya serta
ketidaksanggupan morilnya dan mungkin akan memberontak terhadap seluruh tatanan
etis.
· Manusia bisa merasa dirinya kecil dan tidak berdaya sambil mendambakan topangan serta bantuan Tuhan, yang mengulurkan tangan-Nya untuk membantu manusia yang terkoyak-koyak (bandingkan Mat 5:3).
· Manusia bisa merasa dirinya kecil dan tidak berdaya sambil mendambakan topangan serta bantuan Tuhan, yang mengulurkan tangan-Nya untuk membantu manusia yang terkoyak-koyak (bandingkan Mat 5:3).
Bila kita menangkap tangan ini dan membuka
diri untuk Tuhan, maka kita tiba pada stadium religius. Sebagai orang Kristen -
ia berani menerjunkan diri ke dalam petualangan untuk - dengan ketidakpastian
intelektual yang besar - mempertaruhkan seluruh jiwa raganya demi mengikuti
jejak Kristus. Iman kepercayan Kristiani itu bersifat paradoks, sebagaimana
Kristus merupakan Paradoks besar yang mempersatukan keabadian serta
keduniawian, keilahian serta kemanusiawian. Hidup sebagai Kristen adalah cara
hidup tertinggi yang merupakan kemungkinan ultim dan makna keberadaan manusia.
5.GABRIEL MARCEL (1889-1973)
Salah satu thema utama
dalam filsafatnya adalah mengenai tubuh. Beberapa hal yang penting:
· Masalah mengenai "mempunyai" dan "Ada" dikaitkan dengan tubuh. Saya mempunyai tubuhku atau saya adalah tubuhku? Tubuhku bagi saya bukan obyek, melainkan selalu melibatkan pengalaman saya sendiri tentang organisme fisis-kimiawi, inilah yang ingin diselidiki oleh Marcel.
· Analogi "saya mempunyai tubuhku" dengan "saya mempunyai anjingku" harus dihentikan karena tiga aspek: 1) antara saya dan tubuhku tidak terdapat struktur qui-quid (subyek yang mempunyai dan yang dipunyai) seperti antara saya dan anjingku; 2) tubuh tidak berada di luar saya seperti halnya dengan anjing; 3) saya tidak merupakan "yang lain" terhadap tubuhku seperti saya memang merupakan "yang lain" terhadap anjingku.
· Tubuh bukanlah alat. Martil berada antara tukang kayu dan papan yang sedang dikerjakan. Tubuh tidak berada antara aku dan apa yang sedang dikerjakan. Bila saya menulis, tubuh tidak berada antara "aku" dan kertas.
· Tubuh adalah "alat absolut", artinya alat yang memungkinkan alat2 tetapi tidak merupakan alat bagi sesuatu yang lain.
· Tubuh adalah "prototipe" di bidang "mempunyai", yang memungkinkan untuk mempunyai tetapi tidak dipunyai oleh sesuatu yang lain.
· Sekalipun demikian saya tidak identik begitu saja dengan tubuhku. Tetapi jelas penengahan antara saya dan tubuhku tidak bersifat instrumental. Marcel menyebutnya sympathetic mediation: penengahan pada taraf "merasakan" (sentir). Saya adalah tubuhku, hanya sejauh saya adalah makhluk yang merasakan.
· Proses "merasakan" harus dimengerti sebagai suatu "message" dari luar yang diterima di dalam subyek. Garis pemisah yang ditarik antara "di luar" dan "di dalam" harus ditolak karena "menerima" dalam hal perasaan tidak pernah sama dengan "menerima semata-mata pasif". "Menerima" di sini harus dimengerti sebagai partisipasi, membuka diri, memberikan diri; "menerima" seperti tuan rumah menyambut tamu-tamunya. "Merasakan" berarti menerima dalam wilayah yang merupakan wilayah saya.
· "Inkarnasi" manusia hanya mungkin karena dengan tubuhku saya berada dalam dunia, bukan saja dalam arti bahwa saya dapat mempengaruhi benda-benda, tetapi juga dalam arti bahwa saya terpengaruhi oleh benda-benda. Dualisme antara "di luar" dan "di dalam" harus ditinggalkan. Inkarnasi itu merupakan titik tolak refleksi filosofis dan bukan cogito atau kesadaran.
· Masalah mengenai "mempunyai" dan "Ada" dikaitkan dengan tubuh. Saya mempunyai tubuhku atau saya adalah tubuhku? Tubuhku bagi saya bukan obyek, melainkan selalu melibatkan pengalaman saya sendiri tentang organisme fisis-kimiawi, inilah yang ingin diselidiki oleh Marcel.
· Analogi "saya mempunyai tubuhku" dengan "saya mempunyai anjingku" harus dihentikan karena tiga aspek: 1) antara saya dan tubuhku tidak terdapat struktur qui-quid (subyek yang mempunyai dan yang dipunyai) seperti antara saya dan anjingku; 2) tubuh tidak berada di luar saya seperti halnya dengan anjing; 3) saya tidak merupakan "yang lain" terhadap tubuhku seperti saya memang merupakan "yang lain" terhadap anjingku.
· Tubuh bukanlah alat. Martil berada antara tukang kayu dan papan yang sedang dikerjakan. Tubuh tidak berada antara aku dan apa yang sedang dikerjakan. Bila saya menulis, tubuh tidak berada antara "aku" dan kertas.
· Tubuh adalah "alat absolut", artinya alat yang memungkinkan alat2 tetapi tidak merupakan alat bagi sesuatu yang lain.
· Tubuh adalah "prototipe" di bidang "mempunyai", yang memungkinkan untuk mempunyai tetapi tidak dipunyai oleh sesuatu yang lain.
· Sekalipun demikian saya tidak identik begitu saja dengan tubuhku. Tetapi jelas penengahan antara saya dan tubuhku tidak bersifat instrumental. Marcel menyebutnya sympathetic mediation: penengahan pada taraf "merasakan" (sentir). Saya adalah tubuhku, hanya sejauh saya adalah makhluk yang merasakan.
· Proses "merasakan" harus dimengerti sebagai suatu "message" dari luar yang diterima di dalam subyek. Garis pemisah yang ditarik antara "di luar" dan "di dalam" harus ditolak karena "menerima" dalam hal perasaan tidak pernah sama dengan "menerima semata-mata pasif". "Menerima" di sini harus dimengerti sebagai partisipasi, membuka diri, memberikan diri; "menerima" seperti tuan rumah menyambut tamu-tamunya. "Merasakan" berarti menerima dalam wilayah yang merupakan wilayah saya.
· "Inkarnasi" manusia hanya mungkin karena dengan tubuhku saya berada dalam dunia, bukan saja dalam arti bahwa saya dapat mempengaruhi benda-benda, tetapi juga dalam arti bahwa saya terpengaruhi oleh benda-benda. Dualisme antara "di luar" dan "di dalam" harus ditinggalkan. Inkarnasi itu merupakan titik tolak refleksi filosofis dan bukan cogito atau kesadaran.
6.JEAN PAUL SARTRE (1905 -1980)
Manusia merupakan suatu
proyek ke masa depan yang tidak mungkin didefinisikan. Manusia adalah
sebagaimana ia diperbuat oleh dirinya sendiri. Ia adalah masa depannya. Moral
dan etika harus diciptakan oleh manusia sendiri. Kita adalah kebebasan total,
"kita dihukum untuk bertindak bebas". Inilah kemegahan dan sekaligus
kemalangan bagi kita, sebab kebebasan mengandung juga tanggung-jawab.
Kita bertanggung-jawab atas seluruh eksistensi
kita dan bahkan kita bertanggung-jawab atas semua manusia karena terus-menerus
kita adalah manusia yang memilih dan dengan memilih diri kita sendiri, kita
sekaligus memilih untuk semua orang. Dari tanggung-jawab yang mengerikan ini
lahirlah kecemasan atau keputus-asaan. Kita berusaha meloloskan diri dari
kecemasan serta keputusasaan itu melalui sikap malafide (mauvaise foi) serta
keikhlasan (sincerite), dengan berlagak seolah-olah kita bisa ada sebagaimana
seharusnya kita ada dan secara diam-diam menyisipkan suatu identifikasi antara
en-soi (Ada-pada-dirinya) dan pour-soi (kesadaran kita).
Mungkinkah kehidupan manusia tanpa Tuhan? Apakah hidup manusia masih mempunyai makna? Secara obyektif kehidupan kita memang tidak mempunyai makna sedikitpun dan absurd sama sekali. Kita tidak mempunyai alasan untuk berada. Manusia merupakan une pasion inutile, suatu gairah yang tidak berguna.
Mungkinkah kehidupan manusia tanpa Tuhan? Apakah hidup manusia masih mempunyai makna? Secara obyektif kehidupan kita memang tidak mempunyai makna sedikitpun dan absurd sama sekali. Kita tidak mempunyai alasan untuk berada. Manusia merupakan une pasion inutile, suatu gairah yang tidak berguna.
Namun kita bisa memberi makna kepada kehidupan
kita dan dengan itu kehidupan manusiawi sebetulnya baru menjadi mungkin. Jadi
seorang manusia dapat memberi makna kepada keberadaannya dengan merealisasikan
kemungkinan-kemungkinan yang ada, dengan merancang dirinya. Sartre pernah
menyebut orang lain "neraka", tetapi kemudian ia menginginkan suatu
ikatan dan ia menemukan orang lain sebagai syarat untuk eksistensinya sendiri.
Untuk memperoleh kebenaran
tentang diri saya sendiri, saya memerlukan orang lain. Jadi Sartre yang sebagai
atheis ingin menciptakan suatu way of life yang baru, yaitu semacam moral
manusiawi yang baru. Karena saya terikat dengan orang lain, maka kebebasan saya
harus memperhitungkan juga kebebasan orang lain itu.
Saya tidak boleh membuat
kebebasan saya menjadi tujuan tanpa membuat hal yang sama dengan kebebasan
orang lain. Setelah semua manusia mati, seluruh sejarah umat manusia dapat
disingkatkan dengan mengatakan, "begitulah manusia". Akan tetapi,
siapakah yang dapat mengetahui serta mengatakan hal itu karena tidak ada lagi
manusia? Selama masih ada manusia hidup, selalu terlalu pagi untuk mengatakan
"begitulah manusia". Bagi manusia individu, kemungkinan ultimate
adalah kematian, tetapi kemungkinan ultimate seluruh umat manusia tidak kita
ketahui.
7.RASUL PAULUS
Kita akan
mengkonsentrasikan pandangan Paulus, khususnya dalam suratnya kepada jemaat di
Roma (pasal 12:1-2). Di sini Paulus mengaitkan tubuh (sebagai persembahan yang
hidup kepada Allah), keberbedaan kita dengan dunia, pembaharuan budi dan
mengetahui kehendak Allah (yang baik dan sempurna).
· Berbeda dengan Plato dan Descartes yang cenderung melihat tubuh sebagai penjara jiwa, yang seringkali menghalangi akal sehat yang seharusnya memimpin, berbeda juga dengan Marcel yang cenderung memberhalakan tubuh sebagai "alat absolut" yang tidak dijadikan oleh sesuatu apapun yang lain, maka Paulus menasihatkan kita untuk mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup kepada Allah. Di sini kita melihat pandangan yang positif tentang tubuh (bukan sesuatu yang jahat), sekaligus dilarang untuk memberhalakannya, karena Allah sebagai Pencipta tubuh kita berhak untuk memakainya, bahkan "mempunyainya" sebagai "alat" di tangan-Nya.
· Berbeda dengan Marcel yang mengatakan bahwa kita seharusnya terbuka terhadap setiap "message" dari luar yang diterima (dirasakan) oleh tubuh, terpengaruhi oleh benda-benda dlsb, Paulus mengatakan agar kita tidak menjadi serupa dengan dunia ini. Permasalahannya di sini bukanlah bahwa kita harus memiliki satu sikap eksistensial berani ditransformasi oleh segala sesuatu "yang lain", melainkan pertanyaan "apa yang mentransformasi kita?" Alkitab mengatakan bahwa transformasi itu terjadi dalam "pikiran" (mind) yang mengenal kehendak Allah.
· Berbeda dengan Plato dan Descartes yang cenderung melihat tubuh sebagai penjara jiwa, yang seringkali menghalangi akal sehat yang seharusnya memimpin, berbeda juga dengan Marcel yang cenderung memberhalakan tubuh sebagai "alat absolut" yang tidak dijadikan oleh sesuatu apapun yang lain, maka Paulus menasihatkan kita untuk mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup kepada Allah. Di sini kita melihat pandangan yang positif tentang tubuh (bukan sesuatu yang jahat), sekaligus dilarang untuk memberhalakannya, karena Allah sebagai Pencipta tubuh kita berhak untuk memakainya, bahkan "mempunyainya" sebagai "alat" di tangan-Nya.
· Berbeda dengan Marcel yang mengatakan bahwa kita seharusnya terbuka terhadap setiap "message" dari luar yang diterima (dirasakan) oleh tubuh, terpengaruhi oleh benda-benda dlsb, Paulus mengatakan agar kita tidak menjadi serupa dengan dunia ini. Permasalahannya di sini bukanlah bahwa kita harus memiliki satu sikap eksistensial berani ditransformasi oleh segala sesuatu "yang lain", melainkan pertanyaan "apa yang mentransformasi kita?" Alkitab mengatakan bahwa transformasi itu terjadi dalam "pikiran" (mind) yang mengenal kehendak Allah.
Transformasi pikiran inilah sebenarnya yang
dikejar dan didambakan oleh Plato dan yang disebutnya sebagai "kontemplasi
akan yang ideal dan yang ilahi". Alkitab tidak pernah mengajarkan agar
kita memberikan diri untuk ditransformasi oleh apa saja (asal bersedia ditransformasi),
melainkan bahwa yang mentransformasi kita adalah firman Tuhan.
Transformasi yang
dikerjakan oleh firman Tuhan membuat kita semakin mengerti dan mengenal
kehendak Allah. Di sini kita melihat bahwa Alkitab menghendaki pengertian
pikiran kita (understanding of our mind) terus-menerus disempurnakan, sehingga
menjadi orang kristen yang berkenan kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari
mengerti dan memikirkan apa yang kita percaya karena di situlah transformasi
itu terjadi.
Sebagaimana dikatakan oleh
John Piper, orang kristen seharusnya menjadi seseorang yang memiliki "a
mind in love with God". Mind corresponds to the understanding of the truth
of God's perfections. Love corresponds to the delight in the worth and beauty
of those perfections. God is glorified both by being understood and by being
delighted in. He is not glorified so much by one brand of evangelicals who
divorce delight from understanding. And he is not glorified so much by another
branch of evangelicals who divorce understanding from delight (John Piper,
God's Passion for His Glory. Wheaton: Crossway Books, 1998, p.82).
· Plato mengatakan bahwa kemungkinan dan makna ultimate keberadaan manusia mula-mula terletak dalam kehidupan yang berkaitan erat dengan yang baik, yang benar, dan yang indah. Paulus mengatakan bahwa mengetahui dan dapat membedakan kehendak Allah adalah apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Plato secara samar-samar memiliki pengertian tentang makna ultimate keberadaan manusia, namun Pauluslah yang dipercayakan Tuhan untuk menyatakan apa yang baik itu, yang benar, yang indah, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna yaitu mengetahui kehendak Allah. Dengan mengetahui kehendak Allah sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya manusia menemukan makna ultimate keberadaan dirinya.
· Plato mengatakan bahwa kemungkinan dan makna ultimate keberadaan manusia mula-mula terletak dalam kehidupan yang berkaitan erat dengan yang baik, yang benar, dan yang indah. Paulus mengatakan bahwa mengetahui dan dapat membedakan kehendak Allah adalah apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Plato secara samar-samar memiliki pengertian tentang makna ultimate keberadaan manusia, namun Pauluslah yang dipercayakan Tuhan untuk menyatakan apa yang baik itu, yang benar, yang indah, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna yaitu mengetahui kehendak Allah. Dengan mengetahui kehendak Allah sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya manusia menemukan makna ultimate keberadaan dirinya.