Lagrange







a.       Lagrange
Persamaan lagrangian berkembang pada periode dua yaitu sekitar tahun 1550-an sampai tahun 1800-an. Dimana pada periode ini mulai dikembangkan metode penelitian yang sistematis dengan Galileo dikenal sebagi pencetus metode scientific dalam penetian. Persamaan lagrange sendiri ditemukan oleh ilmuan yang bernama Joseph Louis Lagrange yang dikenal sebagai analisis. Joseph Louis Lagrange menggabungkan variasi – variasi kalkulus dengan mekanika yang kemudian metode penggabungan ini dikenal sebagai persamaan lagrangian. Ketika dalam kondisi khusus terdapat gaya yang tidak dapat diketahui, maka pendekatan Newtonian tidak berlaku. Sehingga diperlukan sebuah pendekatan baru dengan meninjau sifat fisis lain, misalkan energi totalnya. Pendekatan ini dapat dilakukan dengan menggunakan persamaan Lagrange yaitu persamaan umum dinamika partikel yang dapat diturunkan dari prinsip Hamiltonian(http://nrmblue.blogspot.co.id/2014/12/persamaan-lagrangian.html)
Ilmuan yang bernama lengkap Joseph-Louis Lagrange ini blasteran Perancis dan Italia. Lahir pada tahun 1736 M dan Lagrange meninggal pada pagi hari tanggal 10 April 1813, pada umur 76 tahun.
Kakeknya adalah kapten cavaleri Perancis yang mengabdi pada Charles Emmanuel II, Raja Sardinia yang menikah dengan dengan gadis Turin, anak bangsawan keluarga Conti. Ayah Lagrange adalah penyandang dana perang Sardinia, menikah dengan Marie Therese Gros, anak semata wayang dari seorang dokter kaya di Cambiano dan mempunyai sebelas orang anak. Lagrange lahir dengan kondisi parah, tapi akhirnya selamat. Ayah dan ibunya kaya sekaligus seorang spekulan. Saat Lagrange dan saudara-saudaranya dewasa, tidak ada lagi kekayaan yang dapat diwariskan, sehingga ada ungkapan, ”Jika saya mendapat warisan dalam jumlah besar, barangkali saya tidak akan mempelajari matematika.”
Di sekolah minat Lagrange adalah ilmu klasik. Jadi bukanlah suatu kebetulan apabila dia menyenangi matematika. Awalnya mempelajari karya-karya Euclid dan Archimedes tapi tidak berkesan baginya. Setelah melihat karya [Edmund] Halley (penemu komet) tentang metode geometrikal sistetik dengan menggunakan kalkulus, Lagrange langsung tertarik. Dengan belajar sendiri, dalam kurun waktu singkat, dia mampu menguasai apa yang sekarang dikenal dengan nama analisis modern (modern analysis). Umur 19 tahun, Lagrange menjadi Profesor matematika di Sekolah Royal Artilleri di Turin. Sejak saat itu Lagrange mulai berkiprah dalam sejarah matematika
(https://blogpenemu.blogspot.co.id/2014/09/joseph-louis-lagrange-analitis-mekanika.html)
Lagrange menyatakan bahwa dalam ilmu mekanika diperlukan geometri ruang empat dimensi – tiga koordinat Kartesian ditambah dengan satu koordinat waktu - untuk menggambarkan pergerakan partikel dalam ruang sekaligus dalam waktu. Mekanika versi Lagrange menjadi populer sejak 1915 setelah Einstein menggunakannya dalam teori relativitas umum. 
Saat Lagrange umur 19 tahun, ia mengirim hasil kerjanya kepada Euler untuk diberi pengarahan. Euler menyarankan agar meneruskan. Empat tahun kemudian, Lagrange mengirim surat berisi metode untuk menyelesaikan problem-problem isoperimetrikal (variasi-variasi kalkulus, yang dirintis oleh Bernoulli) yang membingungkan Euler selama bertahun-tahun. Euler menjawab dengan pernyataan bahwa metode baru itu dapat menyelesaikan hambatan-hambatan, dan menyuruh Lagrange menerbitkan temuan itu. Lagrange mengalami kesulitan, sebelum akhirnya Euler menerbitkan hasil kerjanya (setelah Lagrange) dan mengatakan bahwa saya dapat mengatasi hambatan-hambatan ini setelah Lagrange menunjukkan cara penyelesaiannya yang luar biasa. Prestasi ini membuat Euler mengangkat Lagrange sebagai anggota asing dari Akademi Berlin (1759). Pengakuan ini membuat nama Lagrange dikenal di Perancis, sebelum Euler dan d’Alembert membuat jadwal kunjungan Lagrange ke Berlin. Lewat negosiasi yang alot dan lama dengan Frederick Agung, akhirnya Lagrange disetujui datang ke Berlin.
Tahun 1768, dalam isi sebuah surat kepada d’Alembert, Lagrange menulis bahwa dia sedang mempelajari aritmatika. Ditemukan kesulitan yang di luar dugaannya bahkan mungkin di luar dugaan d’Alembert pula. Diawali dengan semua integer positif, dan untuk menemukan integer persegi panjang, x² dan nx² + 1 adalah bentuk persegi panjang. Temuan ini penting bagi bentuk kuadrat yang menjadi ciri analisis Diophantus. D’Alembert membalas bahwa analisis Diophantus mungkin berguna dalam integral kalkulus, tapi tanpa disertai rincian. Kelak tahun 1870, ditemukan oleh G. Zolotareff. Problem ini juga menarik perhatian Laplace, sesama matematikawan Perancis, yang kemudian mengirim surat kepada Lagrange, sebelum terjalin persahabatan diantara mereka. Tetapi motivasi mempelajari matematika bagi mereka berdua berbeda seperti bumi dan langit (baca: Laplace). Saat lagrange di Berlin, terjadi penemuan terbesar aljabar pada tahun 1767 yang terdapat dalam buku On the Solution of Numerical Equations. Riset Lagrange dalam teori dan solusi persamaan memberi insprirasi aljabaris abad 19 seperti: Cauchy, Abel, Galois, Hermite dan Kronecker (https://blogpenemu.blogspot.co.id/2014/09/joseph-louis-lagrange-analitis-mekanika.html)
Persamaan gerak partikel yang dinyatakan oleh persamaan Lagrange dapat diperoleh dengan meninjau energi kinetik dan energi potential partikel tanpa perlu meninjau gaya yang bereaksi pada partikel. Energi kinetik partikel dalam koordinat kartesian adalah fungsi dari percepatan, energi potensial partikel yang bergerak dalam medan gaya konservatif adalah fungsi dari posisi.
Persamaan Lagrange merupakan persamaan gerak partikel sebagai fungsi dari koordinat umum, dan mungkin waktu berpengaruh dalam persamaan ini karena Persamaan transformasi yang menghubungkan dengan koordinat kartesian dan koordinat umum mengandung fungsi waktu. Pada dasarnya persamaan Lagrange ekuivalen dengan persamaan gerak Newton jika koordinat yang digunakan adalah koordinat kartesian.
Menggunakan Kartesian ditambah dimensi waktu ternyata mendasari terbentuknya teori relativitas umum Einstein, meskipun Einstein harus menunggu terlebih dahulu munculnya Riemann yang mencetuskan geometri non-Euclidian. Mekanika muncul sebagai ilmu baru, merupakan penerapan prinsip-prinsip fisika dan matematika dengan penekanan lebih kepada penerapan guna membantu manusia dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Niat baik ini sebenarnya sudah bergaung pada jaman Apollonius namun baru memperoleh momentum setelah Lagrange. Aljabar juga menjadi perhatian Lagrange dengan memberikan rumus untuk memperoleh hasil bilangan-bilangan yang tidak diketahui. Belum lagi peran dalam pengembangan kalkulus dan kolaborasinya dengan sesama matematikawan dan ilmuwan Perancis seangkatan maupun lebih tua (Euler dan d’Alembert) memberi sumbangsih yang tidak kecil bagi perkembangan matematika (https://blogpenemu.blogspot.co.id/2014/09/joseph-louis-lagrange-analitis-mekanika.html).
Permasalahan sistem pegas dengan massa yang ada di ujung pegas dapat diselesaikan dengan menggunakan  yang dapat dituliskan dengan . Solusi persamaan ini adalah fungsi sinusoidal. Diyakini bahwa untuk menyelesaikan soulusi ini ada metode selain menggunakan  adalah hanya memperhatikan kuantitas fisik energi kinetik dan energi potensial.
Solusi umum Lagrangian adalah
                               ... (1)
dengan, T = energi kinetik ; V = energi potensial      
Gambar 2.1 Sistem pegas
Pada sistem pegas berlaku persamaan Hooke :
Persamaan gerak pegas diberikan oleh persamaan :
                ... (2)
atau dapat ditulis,
sehingga, persamaan Euler Lagrangian
                    ... (4)
Solusi persamaan gerak menggunakan metode Lagrange dapat dicari dengan melihat persamaan Euler Lagrange dan persamaan gerak pegas di atas yaitu :
Kemudian dicari solusi masing-masing persamaan (5) menjadi :

Jadi solusi persamaan gerak pegas
Dengan metode Lagrange ini kita dapat mencari solusi persamaan gerak dan juga kita dapat mencari persamaan gerak dari solusi persamaan geraknya (lihat persamaan 6), dan persamaan geraknya diberikan oleh persamaan Euler Lagrange (lihat persamaan 4). Diperoleh :
Untuk mencari persamaan diferensial gerak sebuah benda yang dinyatakan dalam koordinat rampatan, kita dapat memulai dengan persamaan berikut:

                                            (21)
dan selanjutnya kita akan mencoba menyatakan persamaan tersebut dalam q. Pendekatan pertama yang akan kita pakai adalah dari persamaan energi. Kita akan menghitung energi kinetik T dalam bentuk koordinat Kartesian dan selanjutnya kita akan nyatakan dalam koordinat rampatan dan turunannya terhadap waktu. Energi kinetik T dari sebuah sistem yang mengandung N partikel dapat dinyatakan dengan

                      (22)

atau dalam bentuk yang lebih ringkas ditulis sebagai berikut

                                        (23)

Mari kita mencoba menyatakan hubungan antara koordinat x dan q yang juga mengandung waktu t secara eksplisit. Kita dapat misalkan

                           (24)

dan selanjutnya

                             (25)
Dalam pembahasan selanjutnya, kita tetapkan bahwa harga i adalah 1,2, …..3N dimana N menyatakan jumlah partikel dalam sistem, dan harga k adalah 1,2, . ….n; dimana n menyatakan jumlah koordinat rampatan (derajat kebebasan) sistem. Oleh karena itu kita dapat melihat bahwa energi kinetik sebagai fungsi koordinat rampatan, turunannya terhadap waktu, atau mungkin dalam waktu. Dalam banyak hal, waktu t tidak secara eksplisit terkait hubungan antara xi dan qk, sehingga xi/t = 0. Jelaslah bahwa energi kinetik T merupakan fungsi kuadrat yang homogen dari kecepatan rampatan .

Dari persamaan                                                         (26)


Kalikan kedua ruas (ruas kiri dan kanan) dengan  dan diferensialkan terhadap t, akan diperoleh:


                      (27)                         

atau 
                        (28)

Jika selanjutnya kita kalikan mi dan kita gunakan hubungan , kita dapat peroleh

                     (29)

Lakukan penjumlahan terhadap i akan diperoleh :

                           (30)

Dari definisi gaya rampatan kita peroleh

                              (31)



Ini adalah persamaan diferensial gerak yang dinyatakan dalam koordinat rampatan dan dikenal dengan persamaan Lagrange untuk gerak.
            Dalam kasus gerakannya adalah konservatif, persamaan Lagrange dapat ditulis sebagai berikut:

                                                       (32)

Persamaan ini biasanya ditulis dalam bentuk yang lebih singkat dengan mendefinisikan fungsi Lagrangian L yakni

            L = T - V                                         (33)

Yang berarti bahwa kita dapat menyatakaan T dan V dalam koordinat rampatan. Oleh karena V = V(qk) dan , kita peroleh

  dan                (34)

Persamaan Lagrange dapat ditulis

                                          (35)

Persamaan diferensial gerak untuk suatu sistem konservatif dapat dicari jika kita ketahui fungsi Lagrangian dalam bentuk koordinat tertentu. Di sisi lain, jika gaya rampatan tidak konservatif, misalkan nilainya adalah , maka kita dapat menuliskan

                                                            (36)

Selanjutnya kita dapat mendefinisikan sebuah fungsi Lagrangian  L = T - V, dan menuliskan persamaan diferensial gerak dalam bentuk

                                                         (37)

                         (37)

Bentuk di atas lebih mudah dipakai jika gaya gesekan diperhitungkan.
Berikut ini akan dibahas beberapa kehandalan persamaan Lagrange untuk menyelesaikan masalah-masalah gerak. Prosedur umum yang dipakai untuk mencari persamaan diferensial gerak dari sebuah sistem adalah sebagai berikut:

1.    Pilih sebuah kumpulan koordinat untuk menyatakan konfigurasi sistem.
2.    Cari energi kinetik T sebagai fungsi koordinat tersebut beserta turunannya terhadap waktu.
3.    Jika sistem tersebut konservatif, cari energi potensial V sebagai fungsi koordinatnya, atau jika sistem tersebut tidak konservatif, cari koordinat rampatan Qk.
4.    Persamaan deferensial gerak selanjutnya dapat dicari dengan menggunakan persamaan di atas.

Beikut ini adalah beberapa contoh pemakaiannya :

1.    Pandanglah sebuah partikel bermassa m yang bergerak akibat pengaruh gaya sentral pada sebuah bidang. Rumuskan persamaan gerak partikel tersebut.

Misalkan koordinat polar (r,q) digunakan sebagai koordinat rampatan. Koordinat Cartesian (r,q) dapat dihubungkan melalui :

                      x = r cos q               y = r sin q
                
Energi kinetik partikel dapat ditulis :
                  

       Energi potensial oleh gaya sentral


Persamaan Lagrange untuk sistem ini:


Dari persamaan Lagrange:



Substitusi q1 = r dan q2 = q, diperoleh:



Dari kedua persamaan di atas diperoleh:


Untuk partikel yang bergerak dalam medan konservatif :


Jadi :                    

Dari persamaan Lagrange :

                      



atau :                               

Hal ini berarti bahwa J merupakan momentum sudut yang nilainya konstan. Integrasi persamaan di atas menghasilkan

 = konstan

Berdasarkan persamaan di atas dapat dikatakan bahwa dalam medan konservatif momentum sudut J, merupakan tetapan gerak.


2.    Osilator Harmonik

Pandanglah sebuah osilator harmonik 1-dimensi, dan misalkan padanya bekerja sebuah gaya peredam yang besarnya sebanding dengan kecepatan. Oleh karena itu sistem dapat dipandang tidak konservatif. Jika x menyatakan pergeseran koordinat, maka fungsi Lagrangiannya adalah

L = T - V =                                 (38)

dimana m adalah massa dan k adalah tetapan kelenturan pegas. Selanjutnya:

  dan                               (39)

Oleh karena pada sistem bekerja gaya yang tidak konservatif yang harganya sebanding dengan kecepatan; dalam hal ini Q' = -c , sehingga persamaan gerak dapat ditulis :

                                 (40)



Ini tak lain adalah persamaan gerak osilator harmonik satu dimensi dengan gaya peredam yang sudah kita kenal.

3.    Partikel yang berada dalam medan sentral.
Mari kita rumuskan persamaan Lagrange gerak sebuah partikel dalam sebuah bidang di bawah pengaruh gaya sentral. Kita pilih koordinat polar  q1 = r,   q2 = q. Maka

                           (41)

                                                          (42)

                             (43)

Selanjutnya dengan menggunakan persamaan Lagrange, diperoleh :

                                     (44)
                                                                (45)

Oleh karena sistemnya tidak konservatif, maka persamaan geraknya adalah :

                                        (46)
                                (47)

4. Mesin Atwood
Sebuah mesin Atwood yang terdiri dari dua benda bermassa m1 dan m2 dihubungkan oleh tali homogen yang panjangnya l dan dilewatkan pada katrol (lihat gambar). Sistem ini memiliki satu derajat kebebasan. Kita ambil variabel x untuk menyatakan konfigurasi sistem, dimana x adalah jarak vertikal dari katrol ke massa m1 seperti yang ditunjukkan pada gambar.



a
l-x
x
m1
m2
 



















Gambar 2. 1
Mesin atwood tunggal

Kecepatan sudut katrol adalah , dimana a adalah jari-jari katrol. Energi kinetik sistem ini adalah :

                                 (48)

dimana I adalah momen inersia katrol. Energi potensial sistem adalah :

                                    (49)

Anggap bahwa pada sistem tidak bekerja gaya gesekan, sehingga fungsi Lagrangiannya adalah

      (50)

dan persamaan Lagrangenya adalah

                                           (51)

yang berarti bahwa :

                                (52)

atau
                                    (53)

adalah percepatan sistem. Nampak bahwa jika m1>m2, maka m1 akan bergerak turun, sebaliknya jika m1<m2 maka m1 akan bergerak naik dengan percepatan tertentu.

5.    Mesin Atwood Ganda

Mesin Atwood ganda diperlihatkan pada gambar 2.2.. Nampak bahwa sistem tersebut mempunyai dua derajat kebebasan. Kita akan menyatakan konfigurasi sistem dengan koordinat x dan x'. Massa katrol dalam hal ini diabaikan (untuk menyederhanakan persoalan).

Energi kinetik dan energi potensial sistem adalah :

        (54)         

   (55)    

dimana m1, m2 dan m3 adalah massa masing-masing beban, dan l serta l' adalah panjang tali penghubungnya.

m1
m2

l-x
x
l'-x’
m3
 



















Gambar 2.2.
         Mesin Atwood Ganda


                                                                                                          (56)
sehingga persamaan geraknya dapat ditulis :

                                  (57)

dengan penyelesaian

            (58)
                     (59)

dan dari persamaan ini percepatan  dan dapat ditentukan.

6.    Partikel yang bergerak pada bidang miring yang dapat digerakkan.

Mari kita tinjau sebuah persoalan dimana sebuah partikel meluncur pada sebuah bidang miring yang juga dapat bergerak pada permukaan datar yang licin, seperti yang ditunjukkan pada gambar 2.3. Dalam persoalan ini terdapat dua derajat kebebasan, sehingga kita butuhkan dua koordinat untuk menggambarkan keadaan sistem yang kita tinjau. Kita akan memilih koordinat x dan x' yang masing-masing menyatakan pergeseran dalam arah horisontal bidang terhadap titik acuan dan pergeseran partikel dari titik acuan terhadap bidang seperti yang ditunjukkan pada gambar.
Dari analisis diagram vektor kecepatan, nampak bahwa kuadrat kecepatan partikel diperoleh dengan menggunakan hukum kosinus :

                                      (60)

Oleh karena itu energi kinetiknya adalah

   (61)

dimana M adalah massa bidang miring dengan sudut kemiringan q, seperti yang ditunjukkan dalam gambar 2.3. dan m adalah massa partikel. Energi potensial sistem tak terkait dengan x oleh karena bidangnya horisontal, sehingga kita dapat tuliskan :

            V=mgx'sin q + tetapan                                               (62)

dan

    (63)

Persamaan geraknya

                               (64)

sehingga

 ;         (65)

Percepatan  dan adalah :

    ;                          (66) 


q
x
v
x'
q
m
M
 












Gambar 2. 3

                      Gerak pada bidang miring dan representasi vektornya


7.    Penurunan persamaan Euler untuk rotasi bebas sebuah benda tegar.  Metode Lagrange dapat digunakan untuk menurunkan persamaan Euler untuk gerak sebuah benda tegar. Kita akan tinjau kasus torka - rotasi bebas. Kita ketahui bahwa energi kinetik diberikan oleh persamaan:

                                   (67)

Dalam hal ini harga w mengacu pada sumbu utama. Dalam Bagian sebelumnya  telah ditunjukkan bahwa w dapat dinyatakan dalam sudut Euler  q, f dan y sebagai berikut:

                           (68)

Dengan memperhatikan sudut Eulerian sebagai koordinat rampatan, persamaan geraknya adalah:

                                                             (69)      

                                                             (70)      

                                                       (71)

oleh karena Q (gaya rampatan) semuanya nol. Dengan menggunakan aturan/dalil rantai :

                                                   (72)  
Sehingga

                                                         (73)

Dengan menggunakan lagi aturan rantai, kita peroleh



                                                         (74)
Akibatnya, persamaan 71 menjadi :

                                                        (75)

yang mana seperti yang ditunjukkan dalam bagian sebelumnya adalah persamaan Euler ketiga untuk rotasi bebas sebuah benda tegar dibawah pengaruh torka nol. Persamaan Euler lainnya dapat diperoleh dengan melakukan permutasi siklik (putaran) dari subskrip : 1®2, 2®3, 3®1.




a.       Lagrange
Persamaan lagrangian berkembang pada periode dua yaitu sekitar tahun 1550-an sampai tahun 1800-an. Dimana pada periode ini mulai dikembangkan metode penelitian yang sistematis dengan Galileo dikenal sebagi pencetus metode scientific dalam penetian. Persamaan lagrange sendiri ditemukan oleh ilmuan yang bernama Joseph Louis Lagrange yang dikenal sebagai analisis. Joseph Louis Lagrange menggabungkan variasi – variasi kalkulus dengan mekanika yang kemudian metode penggabungan ini dikenal sebagai persamaan lagrangian. Ketika dalam kondisi khusus terdapat gaya yang tidak dapat diketahui, maka pendekatan Newtonian tidak berlaku. Sehingga diperlukan sebuah pendekatan baru dengan meninjau sifat fisis lain, misalkan energi totalnya. Pendekatan ini dapat dilakukan dengan menggunakan persamaan Lagrange yaitu persamaan umum dinamika partikel yang dapat diturunkan dari prinsip Hamiltonian(http://nrmblue.blogspot.co.id/2014/12/persamaan-lagrangian.html)
Ilmuan yang bernama lengkap Joseph-Louis Lagrange ini blasteran Perancis dan Italia. Lahir pada tahun 1736 M dan Lagrange meninggal pada pagi hari tanggal 10 April 1813, pada umur 76 tahun.
Kakeknya adalah kapten cavaleri Perancis yang mengabdi pada Charles Emmanuel II, Raja Sardinia yang menikah dengan dengan gadis Turin, anak bangsawan keluarga Conti. Ayah Lagrange adalah penyandang dana perang Sardinia, menikah dengan Marie Therese Gros, anak semata wayang dari seorang dokter kaya di Cambiano dan mempunyai sebelas orang anak. Lagrange lahir dengan kondisi parah, tapi akhirnya selamat. Ayah dan ibunya kaya sekaligus seorang spekulan. Saat Lagrange dan saudara-saudaranya dewasa, tidak ada lagi kekayaan yang dapat diwariskan, sehingga ada ungkapan, ”Jika saya mendapat warisan dalam jumlah besar, barangkali saya tidak akan mempelajari matematika.”
Di sekolah minat Lagrange adalah ilmu klasik. Jadi bukanlah suatu kebetulan apabila dia menyenangi matematika. Awalnya mempelajari karya-karya Euclid dan Archimedes tapi tidak berkesan baginya. Setelah melihat karya [Edmund] Halley (penemu komet) tentang metode geometrikal sistetik dengan menggunakan kalkulus, Lagrange langsung tertarik. Dengan belajar sendiri, dalam kurun waktu singkat, dia mampu menguasai apa yang sekarang dikenal dengan nama analisis modern (modern analysis). Umur 19 tahun, Lagrange menjadi Profesor matematika di Sekolah Royal Artilleri di Turin. Sejak saat itu Lagrange mulai berkiprah dalam sejarah matematika
(https://blogpenemu.blogspot.co.id/2014/09/joseph-louis-lagrange-analitis-mekanika.html)
Lagrange menyatakan bahwa dalam ilmu mekanika diperlukan geometri ruang empat dimensi – tiga koordinat Kartesian ditambah dengan satu koordinat waktu - untuk menggambarkan pergerakan partikel dalam ruang sekaligus dalam waktu. Mekanika versi Lagrange menjadi populer sejak 1915 setelah Einstein menggunakannya dalam teori relativitas umum. 
Saat Lagrange umur 19 tahun, ia mengirim hasil kerjanya kepada Euler untuk diberi pengarahan. Euler menyarankan agar meneruskan. Empat tahun kemudian, Lagrange mengirim surat berisi metode untuk menyelesaikan problem-problem isoperimetrikal (variasi-variasi kalkulus, yang dirintis oleh Bernoulli) yang membingungkan Euler selama bertahun-tahun. Euler menjawab dengan pernyataan bahwa metode baru itu dapat menyelesaikan hambatan-hambatan, dan menyuruh Lagrange menerbitkan temuan itu. Lagrange mengalami kesulitan, sebelum akhirnya Euler menerbitkan hasil kerjanya (setelah Lagrange) dan mengatakan bahwa saya dapat mengatasi hambatan-hambatan ini setelah Lagrange menunjukkan cara penyelesaiannya yang luar biasa. Prestasi ini membuat Euler mengangkat Lagrange sebagai anggota asing dari Akademi Berlin (1759). Pengakuan ini membuat nama Lagrange dikenal di Perancis, sebelum Euler dan d’Alembert membuat jadwal kunjungan Lagrange ke Berlin. Lewat negosiasi yang alot dan lama dengan Frederick Agung, akhirnya Lagrange disetujui datang ke Berlin.
Tahun 1768, dalam isi sebuah surat kepada d’Alembert, Lagrange menulis bahwa dia sedang mempelajari aritmatika. Ditemukan kesulitan yang di luar dugaannya bahkan mungkin di luar dugaan d’Alembert pula. Diawali dengan semua integer positif, dan untuk menemukan integer persegi panjang, x² dan nx² + 1 adalah bentuk persegi panjang. Temuan ini penting bagi bentuk kuadrat yang menjadi ciri analisis Diophantus. D’Alembert membalas bahwa analisis Diophantus mungkin berguna dalam integral kalkulus, tapi tanpa disertai rincian. Kelak tahun 1870, ditemukan oleh G. Zolotareff. Problem ini juga menarik perhatian Laplace, sesama matematikawan Perancis, yang kemudian mengirim surat kepada Lagrange, sebelum terjalin persahabatan diantara mereka. Tetapi motivasi mempelajari matematika bagi mereka berdua berbeda seperti bumi dan langit (baca: Laplace). Saat lagrange di Berlin, terjadi penemuan terbesar aljabar pada tahun 1767 yang terdapat dalam buku On the Solution of Numerical Equations. Riset Lagrange dalam teori dan solusi persamaan memberi insprirasi aljabaris abad 19 seperti: Cauchy, Abel, Galois, Hermite dan Kronecker (https://blogpenemu.blogspot.co.id/2014/09/joseph-louis-lagrange-analitis-mekanika.html)
Persamaan gerak partikel yang dinyatakan oleh persamaan Lagrange dapat diperoleh dengan meninjau energi kinetik dan energi potential partikel tanpa perlu meninjau gaya yang bereaksi pada partikel. Energi kinetik partikel dalam koordinat kartesian adalah fungsi dari percepatan, energi potensial partikel yang bergerak dalam medan gaya konservatif adalah fungsi dari posisi.
Persamaan Lagrange merupakan persamaan gerak partikel sebagai fungsi dari koordinat umum, dan mungkin waktu berpengaruh dalam persamaan ini karena Persamaan transformasi yang menghubungkan dengan koordinat kartesian dan koordinat umum mengandung fungsi waktu. Pada dasarnya persamaan Lagrange ekuivalen dengan persamaan gerak Newton jika koordinat yang digunakan adalah koordinat kartesian.
Menggunakan Kartesian ditambah dimensi waktu ternyata mendasari terbentuknya teori relativitas umum Einstein, meskipun Einstein harus menunggu terlebih dahulu munculnya Riemann yang mencetuskan geometri non-Euclidian. Mekanika muncul sebagai ilmu baru, merupakan penerapan prinsip-prinsip fisika dan matematika dengan penekanan lebih kepada penerapan guna membantu manusia dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Niat baik ini sebenarnya sudah bergaung pada jaman Apollonius namun baru memperoleh momentum setelah Lagrange. Aljabar juga menjadi perhatian Lagrange dengan memberikan rumus untuk memperoleh hasil bilangan-bilangan yang tidak diketahui. Belum lagi peran dalam pengembangan kalkulus dan kolaborasinya dengan sesama matematikawan dan ilmuwan Perancis seangkatan maupun lebih tua (Euler dan d’Alembert) memberi sumbangsih yang tidak kecil bagi perkembangan matematika (https://blogpenemu.blogspot.co.id/2014/09/joseph-louis-lagrange-analitis-mekanika.html).
Permasalahan sistem pegas dengan massa yang ada di ujung pegas dapat diselesaikan dengan menggunakan  yang dapat dituliskan dengan . Solusi persamaan ini adalah fungsi sinusoidal. Diyakini bahwa untuk menyelesaikan soulusi ini ada metode selain menggunakan  adalah hanya memperhatikan kuantitas fisik energi kinetik dan energi potensial.
Solusi umum Lagrangian adalah
                               ... (1)
dengan, T = energi kinetik ; V = energi potensial      
Gambar 2.1 Sistem pegas
Pada sistem pegas berlaku persamaan Hooke :
Persamaan gerak pegas diberikan oleh persamaan :
                ... (2)
atau dapat ditulis,
sehingga, persamaan Euler Lagrangian
                    ... (4)
Solusi persamaan gerak menggunakan metode Lagrange dapat dicari dengan melihat persamaan Euler Lagrange dan persamaan gerak pegas di atas yaitu :
Kemudian dicari solusi masing-masing persamaan (5) menjadi :

Jadi solusi persamaan gerak pegas
Dengan metode Lagrange ini kita dapat mencari solusi persamaan gerak dan juga kita dapat mencari persamaan gerak dari solusi persamaan geraknya (lihat persamaan 6), dan persamaan geraknya diberikan oleh persamaan Euler Lagrange (lihat persamaan 4). Diperoleh :
Untuk mencari persamaan diferensial gerak sebuah benda yang dinyatakan dalam koordinat rampatan, kita dapat memulai dengan persamaan berikut:

                                            (21)
dan selanjutnya kita akan mencoba menyatakan persamaan tersebut dalam q. Pendekatan pertama yang akan kita pakai adalah dari persamaan energi. Kita akan menghitung energi kinetik T dalam bentuk koordinat Kartesian dan selanjutnya kita akan nyatakan dalam koordinat rampatan dan turunannya terhadap waktu. Energi kinetik T dari sebuah sistem yang mengandung N partikel dapat dinyatakan dengan

                      (22)

atau dalam bentuk yang lebih ringkas ditulis sebagai berikut

                                        (23)

Mari kita mencoba menyatakan hubungan antara koordinat x dan q yang juga mengandung waktu t secara eksplisit. Kita dapat misalkan

                           (24)

dan selanjutnya

                             (25)
Dalam pembahasan selanjutnya, kita tetapkan bahwa harga i adalah 1,2, …..3N dimana N menyatakan jumlah partikel dalam sistem, dan harga k adalah 1,2, . ….n; dimana n menyatakan jumlah koordinat rampatan (derajat kebebasan) sistem. Oleh karena itu kita dapat melihat bahwa energi kinetik sebagai fungsi koordinat rampatan, turunannya terhadap waktu, atau mungkin dalam waktu. Dalam banyak hal, waktu t tidak secara eksplisit terkait hubungan antara xi dan qk, sehingga xi/t = 0. Jelaslah bahwa energi kinetik T merupakan fungsi kuadrat yang homogen dari kecepatan rampatan .

Dari persamaan                                                         (26)


Kalikan kedua ruas (ruas kiri dan kanan) dengan  dan diferensialkan terhadap t, akan diperoleh:


                      (27)                         

atau 
                        (28)

Jika selanjutnya kita kalikan mi dan kita gunakan hubungan , kita dapat peroleh

                     (29)

Lakukan penjumlahan terhadap i akan diperoleh :

                           (30)

Dari definisi gaya rampatan kita peroleh

                              (31)



Ini adalah persamaan diferensial gerak yang dinyatakan dalam koordinat rampatan dan dikenal dengan persamaan Lagrange untuk gerak.
            Dalam kasus gerakannya adalah konservatif, persamaan Lagrange dapat ditulis sebagai berikut:

                                                       (32)

Persamaan ini biasanya ditulis dalam bentuk yang lebih singkat dengan mendefinisikan fungsi Lagrangian L yakni

            L = T - V                                         (33)

Yang berarti bahwa kita dapat menyatakaan T dan V dalam koordinat rampatan. Oleh karena V = V(qk) dan , kita peroleh

  dan                (34)

Persamaan Lagrange dapat ditulis

                                          (35)

Persamaan diferensial gerak untuk suatu sistem konservatif dapat dicari jika kita ketahui fungsi Lagrangian dalam bentuk koordinat tertentu. Di sisi lain, jika gaya rampatan tidak konservatif, misalkan nilainya adalah , maka kita dapat menuliskan

                                                            (36)

Selanjutnya kita dapat mendefinisikan sebuah fungsi Lagrangian  L = T - V, dan menuliskan persamaan diferensial gerak dalam bentuk

                                                         (37)

                         (37)

Bentuk di atas lebih mudah dipakai jika gaya gesekan diperhitungkan.
Berikut ini akan dibahas beberapa kehandalan persamaan Lagrange untuk menyelesaikan masalah-masalah gerak. Prosedur umum yang dipakai untuk mencari persamaan diferensial gerak dari sebuah sistem adalah sebagai berikut:

1.    Pilih sebuah kumpulan koordinat untuk menyatakan konfigurasi sistem.
2.    Cari energi kinetik T sebagai fungsi koordinat tersebut beserta turunannya terhadap waktu.
3.    Jika sistem tersebut konservatif, cari energi potensial V sebagai fungsi koordinatnya, atau jika sistem tersebut tidak konservatif, cari koordinat rampatan Qk.
4.    Persamaan deferensial gerak selanjutnya dapat dicari dengan menggunakan persamaan di atas.

Beikut ini adalah beberapa contoh pemakaiannya :

1.    Pandanglah sebuah partikel bermassa m yang bergerak akibat pengaruh gaya sentral pada sebuah bidang. Rumuskan persamaan gerak partikel tersebut.

Misalkan koordinat polar (r,q) digunakan sebagai koordinat rampatan. Koordinat Cartesian (r,q) dapat dihubungkan melalui :

                      x = r cos q               y = r sin q
                
Energi kinetik partikel dapat ditulis :
                  

       Energi potensial oleh gaya sentral


Persamaan Lagrange untuk sistem ini:


Dari persamaan Lagrange:



Substitusi q1 = r dan q2 = q, diperoleh:



Dari kedua persamaan di atas diperoleh:


Untuk partikel yang bergerak dalam medan konservatif :


Jadi :                    

Dari persamaan Lagrange :

                      



atau :                               

Hal ini berarti bahwa J merupakan momentum sudut yang nilainya konstan. Integrasi persamaan di atas menghasilkan

 = konstan

Berdasarkan persamaan di atas dapat dikatakan bahwa dalam medan konservatif momentum sudut J, merupakan tetapan gerak.


2.    Osilator Harmonik

Pandanglah sebuah osilator harmonik 1-dimensi, dan misalkan padanya bekerja sebuah gaya peredam yang besarnya sebanding dengan kecepatan. Oleh karena itu sistem dapat dipandang tidak konservatif. Jika x menyatakan pergeseran koordinat, maka fungsi Lagrangiannya adalah

L = T - V =                                 (38)

dimana m adalah massa dan k adalah tetapan kelenturan pegas. Selanjutnya:

  dan                               (39)

Oleh karena pada sistem bekerja gaya yang tidak konservatif yang harganya sebanding dengan kecepatan; dalam hal ini Q' = -c , sehingga persamaan gerak dapat ditulis :

                                 (40)



Ini tak lain adalah persamaan gerak osilator harmonik satu dimensi dengan gaya peredam yang sudah kita kenal.

3.    Partikel yang berada dalam medan sentral.
Mari kita rumuskan persamaan Lagrange gerak sebuah partikel dalam sebuah bidang di bawah pengaruh gaya sentral. Kita pilih koordinat polar  q1 = r,   q2 = q. Maka

                           (41)

                                                          (42)

                             (43)

Selanjutnya dengan menggunakan persamaan Lagrange, diperoleh :

                                     (44)
                                                                (45)

Oleh karena sistemnya tidak konservatif, maka persamaan geraknya adalah :

                                        (46)
                                (47)

4. Mesin Atwood
Sebuah mesin Atwood yang terdiri dari dua benda bermassa m1 dan m2 dihubungkan oleh tali homogen yang panjangnya l dan dilewatkan pada katrol (lihat gambar). Sistem ini memiliki satu derajat kebebasan. Kita ambil variabel x untuk menyatakan konfigurasi sistem, dimana x adalah jarak vertikal dari katrol ke massa m1 seperti yang ditunjukkan pada gambar.



a
l-x
x
m1
m2
 



















Gambar 2. 1
Mesin atwood tunggal

Kecepatan sudut katrol adalah , dimana a adalah jari-jari katrol. Energi kinetik sistem ini adalah :

                                 (48)

dimana I adalah momen inersia katrol. Energi potensial sistem adalah :

                                    (49)

Anggap bahwa pada sistem tidak bekerja gaya gesekan, sehingga fungsi Lagrangiannya adalah

      (50)

dan persamaan Lagrangenya adalah

                                           (51)

yang berarti bahwa :

                                (52)

atau
                                    (53)

adalah percepatan sistem. Nampak bahwa jika m1>m2, maka m1 akan bergerak turun, sebaliknya jika m1<m2 maka m1 akan bergerak naik dengan percepatan tertentu.

5.    Mesin Atwood Ganda

Mesin Atwood ganda diperlihatkan pada gambar 2.2.. Nampak bahwa sistem tersebut mempunyai dua derajat kebebasan. Kita akan menyatakan konfigurasi sistem dengan koordinat x dan x'. Massa katrol dalam hal ini diabaikan (untuk menyederhanakan persoalan).

Energi kinetik dan energi potensial sistem adalah :

        (54)         

   (55)    

dimana m1, m2 dan m3 adalah massa masing-masing beban, dan l serta l' adalah panjang tali penghubungnya.

m1
m2

l-x
x
l'-x’
m3
 



















Gambar 2.2.
         Mesin Atwood Ganda


                                                                                                          (56)
sehingga persamaan geraknya dapat ditulis :

                                  (57)

dengan penyelesaian

            (58)
                     (59)

dan dari persamaan ini percepatan  dan dapat ditentukan.

6.    Partikel yang bergerak pada bidang miring yang dapat digerakkan.

Mari kita tinjau sebuah persoalan dimana sebuah partikel meluncur pada sebuah bidang miring yang juga dapat bergerak pada permukaan datar yang licin, seperti yang ditunjukkan pada gambar 2.3. Dalam persoalan ini terdapat dua derajat kebebasan, sehingga kita butuhkan dua koordinat untuk menggambarkan keadaan sistem yang kita tinjau. Kita akan memilih koordinat x dan x' yang masing-masing menyatakan pergeseran dalam arah horisontal bidang terhadap titik acuan dan pergeseran partikel dari titik acuan terhadap bidang seperti yang ditunjukkan pada gambar.
Dari analisis diagram vektor kecepatan, nampak bahwa kuadrat kecepatan partikel diperoleh dengan menggunakan hukum kosinus :

                                      (60)

Oleh karena itu energi kinetiknya adalah

   (61)

dimana M adalah massa bidang miring dengan sudut kemiringan q, seperti yang ditunjukkan dalam gambar 2.3. dan m adalah massa partikel. Energi potensial sistem tak terkait dengan x oleh karena bidangnya horisontal, sehingga kita dapat tuliskan :

            V=mgx'sin q + tetapan                                               (62)

dan

    (63)

Persamaan geraknya

                               (64)

sehingga

 ;         (65)

Percepatan  dan adalah :

    ;                          (66) 


q
x
v
x'
q
m
M
 












Gambar 2. 3

                      Gerak pada bidang miring dan representasi vektornya


7.    Penurunan persamaan Euler untuk rotasi bebas sebuah benda tegar.  Metode Lagrange dapat digunakan untuk menurunkan persamaan Euler untuk gerak sebuah benda tegar. Kita akan tinjau kasus torka - rotasi bebas. Kita ketahui bahwa energi kinetik diberikan oleh persamaan:

                                   (67)

Dalam hal ini harga w mengacu pada sumbu utama. Dalam Bagian sebelumnya  telah ditunjukkan bahwa w dapat dinyatakan dalam sudut Euler  q, f dan y sebagai berikut:

                           (68)

Dengan memperhatikan sudut Eulerian sebagai koordinat rampatan, persamaan geraknya adalah:

                                                             (69)      

                                                             (70)      

                                                       (71)

oleh karena Q (gaya rampatan) semuanya nol. Dengan menggunakan aturan/dalil rantai :

                                                   (72)  
Sehingga

                                                         (73)

Dengan menggunakan lagi aturan rantai, kita peroleh



                                                         (74)
Akibatnya, persamaan 71 menjadi :

                                                        (75)

yang mana seperti yang ditunjukkan dalam bagian sebelumnya adalah persamaan Euler ketiga untuk rotasi bebas sebuah benda tegar dibawah pengaruh torka nol. Persamaan Euler lainnya dapat diperoleh dengan melakukan permutasi siklik (putaran) dari subskrip : 1®2, 2®3, 3®1.


Total Tayangan Halaman

Cari Blog Ini

khoerusalam. Diberdayakan oleh Blogger.

Wikipedia

Hasil penelusuran

Translate

HOME

Blogger news

HOME

Blogroll

Blogger templates