perbedaan
antropologi fisik, budaya, sosial dan terapan
1.
Antropologi Fisik
Antropologi fisik dalam arti khusus adalah bagian dari ilmu antropologi yang mencoba mencapai suatu pengertian tentang sejarah terjadinya aneka warna makhluk manusia dipandang dari sudut ciri-ciri tubuhnya, yang memakai sebagai bahan penelitiannya ciri-ciri tubuh, baik yang lahir (fenotipik) seperti warna kulit, warna dan bentuk rambut, indeks tengkorak, bentuk muka, warna mata, bentuk hidung, tinggi dan bentuk tubuh, maupun yang dalam (genotipik), seperti frekuensi golongan darah dan sebagainya. Manusia di muka bumi ini dapat digolongkan ke dalam beberapa golongan tertentu berdasarkan atas persamaan mengenai beberapa ciri tubuh. Adapun ciri-ciri tubuh itu terdapat pada sebagian besar dari individu-individunya, walaupun tiap individu memiliki ciri-ciri tubuh yang berbeda-beda. Kelompok manusia seperti itu dalam ilmu antropologi disebut ras. Pengertian terhadap aneka warna dari ras-ras di dunia itu dicapai oleh para sarjana, terutama dengan menjalankan berbagai metode klasifikasi terhadap aneka warna itu.
Antropologi fisik dalam arti khusus adalah bagian dari ilmu antropologi yang mencoba mencapai suatu pengertian tentang sejarah terjadinya aneka warna makhluk manusia dipandang dari sudut ciri-ciri tubuhnya, yang memakai sebagai bahan penelitiannya ciri-ciri tubuh, baik yang lahir (fenotipik) seperti warna kulit, warna dan bentuk rambut, indeks tengkorak, bentuk muka, warna mata, bentuk hidung, tinggi dan bentuk tubuh, maupun yang dalam (genotipik), seperti frekuensi golongan darah dan sebagainya. Manusia di muka bumi ini dapat digolongkan ke dalam beberapa golongan tertentu berdasarkan atas persamaan mengenai beberapa ciri tubuh. Adapun ciri-ciri tubuh itu terdapat pada sebagian besar dari individu-individunya, walaupun tiap individu memiliki ciri-ciri tubuh yang berbeda-beda. Kelompok manusia seperti itu dalam ilmu antropologi disebut ras. Pengertian terhadap aneka warna dari ras-ras di dunia itu dicapai oleh para sarjana, terutama dengan menjalankan berbagai metode klasifikasi terhadap aneka warna itu.
Bagian dari ilmu antropologi sering
disebut antropologifisik dalam arti khusus atau Somatologi.Tulisan Darwin ”The
Origin of Species” Antropologi fisik berkembang pesat dengan melakukan
penelitian-penelitian terhadap asal mula dan perkembangan manusia. Manusia
asalnya monyet, karena makhluk hidup mengalami evolusi.Antropologi ingin
membuktikan dengan melakukan berbagai penelitian terhadap kera dan monyet di
seluruh dunia.Antropologi fisik mempelajari manusia dari segi biologi misalnya,
bentuk tubuh, warna rambut, warna kulit, dan lainnya. Adapun ilmu yang termasuk
Antropologi fisik yaitu :
a. Paleoantropologi : Bagian dari antropologi fisik yang menelaah tentang asal usul atau terjadinya dan perkembangan mahkluk manusia. Obyek penelitiannya adalah fosil manusia (sisa-sisa tubuh manusia yang telah membatu) yang terdapat dalam lapisan-lapisan bumi.
b. Somatologiü : Adalah bagian dari antropologi fisik yang menelaah tentang variasi atau keanekaragaman ras manusia melalui cirri-ciri tubuh manusia secara keseluruhan ( ciri-ciri genotipe dan fenotipe ).
Contoh :
a. Paleoantropologi : Bagian dari antropologi fisik yang menelaah tentang asal usul atau terjadinya dan perkembangan mahkluk manusia. Obyek penelitiannya adalah fosil manusia (sisa-sisa tubuh manusia yang telah membatu) yang terdapat dalam lapisan-lapisan bumi.
b. Somatologiü : Adalah bagian dari antropologi fisik yang menelaah tentang variasi atau keanekaragaman ras manusia melalui cirri-ciri tubuh manusia secara keseluruhan ( ciri-ciri genotipe dan fenotipe ).
Contoh :
·
Dengan melakukan pengamatan mengenai
perbedaan fisik orang dari ras Mongoloid dengan orang ras Negroid. Penelitian
dan pengamatan yang dilakukan dengan melihat perbedaan ciri-ciri fisik yang
dimiliki oleh masing-masing ras, antara lain dilihat dari warna kulit, warna
dan bentuk rambut, indeks tengkorak, bentuk muka, warna mata, bentuk hidung,
tinggi dan bentuk tubuh, maupun yang dalam (genotipik), seperti frekuensi golongan
darah dan sebagainya.
·
Seseorang peneliti ingin membuat
suatu descriptive integration dari kebudayaan suku bangsa Ngada di Flores
Tengah, ia mengumpulkan bahan tentang kehidupan masyarakat dan kebudayaan orang
Ngada sekarang, tetapi di samping itu ia juga memperhatikan fosil-fosil yang
terdapat di Flores itu. Dan ia memperhatikan ciri-ciri ras orang Ngada dan
suku-suku bangsa lain di sekitarnya di Flores, ia juga mengolah ke dalam
bahannya artefak-artefak yang digali atau ditemukan di daerah Flores Tengah.
Dengan mengolah menjadi satu semua bahan itu ia mencoba mencapai pengertian
tentang asal mula dan sejarah perkembangan dari suku bangsa Ngada.
2. Antropologi Budaya
Menurut orang awam membicarakan Antropologi hanyalah berfikir tentang fosil-fosil. Memang pemikiran yang demikian tidak selamanya salah karena mempelajari fosil merupakan suatu cabang penelitian Antropologi. Meletakkan pada budaya manusia atau cara hidupnya dalam masyarakat. Antropologi budaya melihat atau mempelajari manusia yang berkaitan dengan materi-materi kebudayaan seperti misalnya, alat-alat hidup, perumahan, kesenian, norma, perilaku dan lain sebagainya yang ada dalam masyarakat. Adapun yang termasuk dalam antropologi budaya antara lain
2. Antropologi Budaya
Menurut orang awam membicarakan Antropologi hanyalah berfikir tentang fosil-fosil. Memang pemikiran yang demikian tidak selamanya salah karena mempelajari fosil merupakan suatu cabang penelitian Antropologi. Meletakkan pada budaya manusia atau cara hidupnya dalam masyarakat. Antropologi budaya melihat atau mempelajari manusia yang berkaitan dengan materi-materi kebudayaan seperti misalnya, alat-alat hidup, perumahan, kesenian, norma, perilaku dan lain sebagainya yang ada dalam masyarakat. Adapun yang termasuk dalam antropologi budaya antara lain
a.
Arkeologi : Bagian dari antropologi
budaya yang mempelajari tentang sejarah manusia dan penyebarannya melalui obyek
penelitian artefak (benda-benda peninggalan).
b.
Etnolinguistik: Bagian dari
antropologi budaya yang mempelajari Timbulnya bahasa, bagaimana terjadinya
variasi dalam bahasa serta penyebaran bahasa umat manusia di dunia.
c.
Etnografi: Ilmu ini mempelajari
mengenai berbagai kebudayaan pada suatu masyarakat secara mendetail pada suatu
kenyataan berupa aktivitas nyata masyarakat. Kenyataan diperoleh dari berbagai
observasi yang biasanya dilakukan oleh Antropologi budaya. Sebenarnya beberapa
tahun yang lalu para ahli tersebut hanya berpegang pada teori untuk memprediksi
aktivitas dalam masyarakat, sekarang telah meninggalkan teori-teori itu dan
langsung pergi ke lapangan, hidup dengan orang-orang primitif, makan, tinggal,
dan ingin mengetahui nilai-nilai serta motivasi mereka.
d.
Etnologi: Bagian dari antropologi
budaya yang mencoba menelusuri asas-asas manusia dengan meneliti seperangkat
pola kebudayaan suatu suku bangsa yang menyebar di seluruh dunia. Obyek
penelitiannya adalah pola kelakuan masyarakat ( adat istiadat, kekerabatan,
kesenian, dsb) serta dinamika kebudayaan ( perubahan, pelembagaan dan
interaksi).
·
Contoh : Seorang peneliti melakukan
penelitian di daerah Singkep, Blora tepatnya pada masyarakat Suku Samin. Ia
meneliti mengenai alat-alat hidup, perumahan, kesenian, adapt istiadat
(kebudayaan), norma, serta perilaku masyarakat Suku Samin. Dimana mata
pencahariannya masih bertumpu pada pertanian dan masih memegang teguh
kepercayaan yang dibawa oleh pendirinya Samin Surosentiko.
3. Antropologi Sosial
Generalizing Approach ( antropologi sosial ) dalam etnologi mencari azas persamaan di belakang aneka warna dalam beribu-ribu masyarakat dari kelompok-kelompok manusia di muka bumi ini. Pengertian tentang azas tersebut dapat dicapai dengan metode-metode yang dimasukkan ke dalam dua golongan.
Generalizing Approach ( antropologi sosial ) dalam etnologi mencari azas persamaan di belakang aneka warna dalam beribu-ribu masyarakat dari kelompok-kelompok manusia di muka bumi ini. Pengertian tentang azas tersebut dapat dicapai dengan metode-metode yang dimasukkan ke dalam dua golongan.
Golongan
pertama terdiri dari metode yang menuju kearah penelitian mendalam dan bulat
dari sejumlah masyarakat dan kebudayaan yang terbatas (tiga sampai paling
banyak lima). Metode ini menyebabkan bahwa seorang sarjana antropologi mencapai
suatu pengertian bulat tentang unsur-unsur kebudayaan tertentu dalam rangka
masyarakat-masyarakat lain pada umumnya. Golongan kedua terdiri dari metode
yang menuju kearah perbandingan merata dari sejumlah unsur terbatas dalam suatu
jumlah masyarakat yang sebanyak mungkin ( dua-tiga ratus atau lebih). Dalam
metode ini pengertian tentang azas-azas masyarakat dan kebudayaan manusia
dicapai melalui sifat aneka warna atau diversitasnya.
Kedua golongan metode terurai di atas tadi itu
dalam cara berpikir seorang sarjana antropologi tentu tidak terlepas satu
dengan lain, tetapi selalu saling bantu membantu.
Penerapan dari ilmu antropologi mula-mula adalah terhadap masalah pembangunan masyarakat desa, kemudian lebih luas lagi yaitu terhadap masalah ekonomi pedesaan, terhadap masalah kesehatan rakyat pedesaan, terhadap masalah kependudukan dan lain-lain, yang telah menimbulkan berbagai spesialisasi dalam ilmu antropologi.
Penerapan dari ilmu antropologi mula-mula adalah terhadap masalah pembangunan masyarakat desa, kemudian lebih luas lagi yaitu terhadap masalah ekonomi pedesaan, terhadap masalah kesehatan rakyat pedesaan, terhadap masalah kependudukan dan lain-lain, yang telah menimbulkan berbagai spesialisasi dalam ilmu antropologi.
Mengkaji
tentang masyarakat manusia.Antropologi social sering kali disebut antropologi
social budaya karena masyarakat dan budaya merupakan satu kesatuan system yang
tidak terpisahkan.Antropologi ini tertarik untuk mempelajari struktur dan
fungsi kelompok dengan melihat fenomena-fenomena seperti materi kebudayaan,
bahasa, karya seni, dan agama, yang lebih menekankan institusi daripada melihat
manusia sebagai pribadi. Antropologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari
umat manusia sebagai mahkluk masyarakat , terutama sifat-sifat khusus badani
dan cara-cara produksi, tradisi-tradisi dan nilai-nilai yang membuat pergaulan
hidup berbeda dari yang satu dengan lainnya ( Prof Harsojo).
·
Contoh : Penelitian mengenai kondisi
wilayah suatu desa tertentu dengan melakukan pengamatan. Dengan cara mengamati
kondisi geografis wilayah yang diteliti, kemudian melihat keadaan masyarakat
setempat sesuai kondisi geografis wilayah tersebut. Meneliti terbentuknya
organisasi dan struktur social yang ada di masyarakat setempat. Serta interaksi
social yang terjadi pada masyarakat. Misalnya desa Kemloko di kabupaten
Temanggung yang daerahnya terletak di lereng gunung Sumbing yang mempunyai hawa
dingin dan cocok untuk tanaman Tembakau, sehingga mayoritas masyarakatnya
bekerja sebagai petani Tembakau. Hal ini mempengaruhi struktur social di desa
Kemloko. Seperti adanya petani tembakau, pedagangnya dan distributornya ke
kota. Selain juga ada yang bekerja sebagai pedagang dan pegawai. Organisasi
social yang ada di desa Kemloko antara lain adalah PKK,LKMD dan Karang Taruna.
4.
Antropologi Terapan
Antropologi
terapan merupakan cabang Antropologi yang belum lama dikenal yang muncul untuk
menjawab tantangan zaman.Antropologi terapan ini diadakan untuk langsung
diaplikasikan sesuai situasi dan kondisi. Misalnya; pasukan militer yang di
tugaskan ke daerah konflik, mereka perlu dibekali dengan Antropologi yang
langsung bias diaplikasikan di daerah konflik sehingga misi yang mereka embank
dapat tercapai. Sejarah mencatat bahwa kekerasan tidak dapat dikalahkan dengan
kekerasan. Dengan mengenal dan mengetahui bagaimana masyarakat dan budaya
daerah konflik, maka perdamaian akan terwujud.
Secara umum, antropologi terapan adalah satu bidang dalam ilmu antropologi tempat pengetahuan (knowledge), ketrampilan (skills), dan sudut-pandang (perspective) ilmu antropologidigunakan untuk menolong mencari solusi bagi masalah-masalah praktis kemanusiaan dan memfasilitasi pembangunan.Secara strategis, dalam kajian-kajian antropologi terapan, mahasiswa harus memperlihatkan bagaimana konsep teoretis diterapkan secara empiris ke dalam kenyataan sosiokultural, dan pada gilirannya bagaimana analisis empiris ini berguna untuk keperluan praktis dan sekaligus memberikan umpan-balik bagi pengembangan teori dan konsep antropologi.
Pola kerja dari antropologi terapan hampir sama dengan ilmu-ilmu terapan lain. Laura Thomson menyamakan antropologi terapan dengan antropologi ‘kedokteran’, dalam pengertian bagaimana ilmu kedokteran bekerja pada masa awal perkembangannya. Bahwa seorang antropolog terapan tidak hanya dituntut untuk mendiagnosis masalah-masalah sosiokultural dalam sebuah masyarakat (diagnosis the problem) dan memberikan rekomendasi pengobatannya (recommend treatment), tetapi juga harus mengembangkan instrumen untuk kerja diagnosis (develop the instruments of diagnosis), melakukan penyelidikan untuk menemukan obat bagi masalah sosiokultural tersebut (discover the remedy), dan menyelia pengobatan (superintend treatment) (Thompson 1963:354).
Antropologi terapan mengkaji atau berhubungan dengan budaya-budaya dan kelompok sosial yang hidup pada masa kini (living cultures and contemporary peoples.Studi antropologi terapan adalah berkenaan dengan kebutuhan dan masalah nyata yang dihadapi kelompok sosial tersebut pada masa kini, seperti masalah konflik etnis, pengangguran, gangguan mental masyarakat tertimpa banjir, penyalahgunaan obat, HIV/AIDS, kemiskinan struktural, ethnic cleansing, dsb.
Contoh : Melakukan penelitian mengenai banyaknya pengangguran yang terjadi saat ini. Yang pembahasannya meliputi latar belakang terjadinya pengangguran, keadaan masyarakat akibat adanya pengangguran, serta upaya yang dilakukan untuk mengatasi pengangguran pada masa kini.
Secara umum, antropologi terapan adalah satu bidang dalam ilmu antropologi tempat pengetahuan (knowledge), ketrampilan (skills), dan sudut-pandang (perspective) ilmu antropologidigunakan untuk menolong mencari solusi bagi masalah-masalah praktis kemanusiaan dan memfasilitasi pembangunan.Secara strategis, dalam kajian-kajian antropologi terapan, mahasiswa harus memperlihatkan bagaimana konsep teoretis diterapkan secara empiris ke dalam kenyataan sosiokultural, dan pada gilirannya bagaimana analisis empiris ini berguna untuk keperluan praktis dan sekaligus memberikan umpan-balik bagi pengembangan teori dan konsep antropologi.
Pola kerja dari antropologi terapan hampir sama dengan ilmu-ilmu terapan lain. Laura Thomson menyamakan antropologi terapan dengan antropologi ‘kedokteran’, dalam pengertian bagaimana ilmu kedokteran bekerja pada masa awal perkembangannya. Bahwa seorang antropolog terapan tidak hanya dituntut untuk mendiagnosis masalah-masalah sosiokultural dalam sebuah masyarakat (diagnosis the problem) dan memberikan rekomendasi pengobatannya (recommend treatment), tetapi juga harus mengembangkan instrumen untuk kerja diagnosis (develop the instruments of diagnosis), melakukan penyelidikan untuk menemukan obat bagi masalah sosiokultural tersebut (discover the remedy), dan menyelia pengobatan (superintend treatment) (Thompson 1963:354).
Antropologi terapan mengkaji atau berhubungan dengan budaya-budaya dan kelompok sosial yang hidup pada masa kini (living cultures and contemporary peoples.Studi antropologi terapan adalah berkenaan dengan kebutuhan dan masalah nyata yang dihadapi kelompok sosial tersebut pada masa kini, seperti masalah konflik etnis, pengangguran, gangguan mental masyarakat tertimpa banjir, penyalahgunaan obat, HIV/AIDS, kemiskinan struktural, ethnic cleansing, dsb.
Contoh : Melakukan penelitian mengenai banyaknya pengangguran yang terjadi saat ini. Yang pembahasannya meliputi latar belakang terjadinya pengangguran, keadaan masyarakat akibat adanya pengangguran, serta upaya yang dilakukan untuk mengatasi pengangguran pada masa kini.